Mengenal Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi):
Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya Sejak Dini
Mengenal Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi): Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya Sejak Dini
Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Kondisi ini sering tidak menimbulkan keluhan, tetapi jika tidak dikendalikan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal. Mengenali faktor risiko, memeriksa tekanan darah secara rutin, serta menerapkan pola hidup sehat merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan sejak dini.
1. Apa Itu Tekanan Darah Tinggi?
Tekanan darah adalah tekanan yang diberikan aliran darah terhadap dinding pembuluh darah ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh.
Hasil pengukuran tekanan darah ditulis menggunakan dua angka, misalnya 120/80 mmHg.
Tekanan sistolik: angka pertama atau angka atas, yaitu tekanan ketika jantung berkontraksi dan memompa darah.
Tekanan diastolik: angka kedua atau angka bawah, yaitu tekanan ketika jantung beristirahat di antara denyutnya.
Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada pada tingkat tinggi secara menetap. Batas diagnosis dapat berbeda menurut pedoman yang digunakan dan hasil evaluasi tenaga kesehatan. Karena itu, satu kali pengukuran tinggi belum selalu cukup untuk memastikan diagnosis.
2. Apa Saja Gejala Tekanan Darah Tinggi?
Salah satu hal penting yang perlu diketahui masyarakat adalah bahwa hipertensi sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Seseorang dapat memiliki tekanan darah tinggi tanpa merasa sakit atau mengalami keluhan tertentu.
Keluhan seperti sakit kepala, pusing, leher terasa kaku, atau mudah lelah tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan hipertensi. Cara yang tepat untuk mengetahuinya adalah melalui pengukuran tekanan darah.
Pada tekanan darah yang sangat tinggi, sebagian orang dapat mengalami keluhan serius. Namun, jangan menunggu munculnya gejala untuk memeriksa tekanan darah.
Segera cari pertolongan medis jika tekanan darah sangat tinggi disertai nyeri dada, sesak napas, kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, gangguan penglihatan, kebingungan, atau kesulitan berbicara.
3. Apa Penyebab Tekanan Darah Tinggi?
Hipertensi dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor keturunan, usia, kondisi kesehatan, dan kebiasaan sehari-hari.
A. Konsumsi garam berlebihan
Asupan natrium yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah pada banyak orang. Natrium tidak hanya terdapat pada garam dapur, tetapi juga pada mi instan, makanan olahan, makanan kalengan, kerupuk, saus, dan sejumlah bumbu siap pakai.
B. Kurang aktivitas fisik
Gaya hidup yang kurang bergerak dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, terutama jika disertai kelebihan berat badan dan pola makan yang kurang sehat.
C. Berat badan berlebih
Kelebihan berat badan dapat membuat jantung bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko hipertensi.
D. Merokok dan konsumsi alkohol
Nikotin dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara dan merusak pembuluh darah. Konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan tekanan darah, terutama jika berlebihan.
E. Stres dan kurang tidur
Stres berkepanjangan dan gangguan tidur dapat berhubungan dengan peningkatan risiko hipertensi. Keduanya perlu dikelola sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat.
F. Faktor keturunan dan usia
Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Riwayat hipertensi pada orang tua atau keluarga dekat juga dapat meningkatkan risiko seseorang.
G. Penyakit dan obat tertentu
Gangguan ginjal, gangguan hormon, sleep apnea, serta beberapa jenis obat dapat memengaruhi tekanan darah. Jika tekanan darah terus tinggi, tenaga kesehatan dapat mengevaluasi kemungkinan penyebab yang mendasarinya.
4. Apa Risiko Jika Tekanan Darah Tinggi Tidak Dikendalikan?
Tekanan darah yang tinggi secara terus-menerus dapat membebani jantung dan merusak pembuluh darah. Jika tidak ditangani dengan baik, hipertensi dapat meningkatkan risiko:
Penyakit jantung dan gagal jantung.
Serangan jantung.
Stroke.
Kerusakan ginjal.
Gangguan penglihatan.
Kerusakan pembuluh darah.
Risiko tersebut dapat dikurangi melalui deteksi dini, perubahan gaya hidup, pemantauan, dan pengobatan yang sesuai kebutuhan.
5. Bagaimana Cara Mencegah Tekanan Darah Tinggi Sejak Dini?
Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga tekanan darah tetap sehat.
A. Batasi asupan garam
Kurangi penggunaan garam berlebihan dan batasi makanan tinggi natrium. Organisasi Kesehatan Dunia menganjurkan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 2.000 mg natrium per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam dari seluruh sumber makanan.
B. Perbanyak sayur dan buah
Pola makan yang seimbang dengan sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang sesuai dapat membantu menjaga kesehatan jantung.
Jika memiliki penyakit ginjal atau kondisi yang mengharuskan pembatasan kalium, konsultasikan pilihan makanan dengan tenaga kesehatan.
C. Lakukan aktivitas fisik secara teratur
Berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau aktivitas fisik lain dapat membantu menjaga tekanan darah dan kebugaran. Bagi kebanyakan orang dewasa, target umum adalah setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu, disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi kesehatan.
D. Jaga berat badan yang sehat
Jika berat badan berlebih, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu menurunkan tekanan darah. Hindari diet ekstrem dan pilih perubahan kebiasaan yang dapat dipertahankan.
E. Berhenti merokok
Berhenti merokok membantu melindungi pembuluh darah dan menurunkan risiko penyakit jantung serta stroke.
F. Tidur cukup dan kelola stres
Pertahankan jadwal tidur yang teratur dan cari cara yang sehat untuk mengelola stres, misalnya berjalan santai, melakukan latihan pernapasan, atau menjalankan kegiatan yang menenangkan.
G. Periksa tekanan darah secara berkala
Pengukuran tekanan darah merupakan langkah penting karena hipertensi sering tidak menimbulkan gejala. Gunakan alat yang sesuai, ikuti petunjuk pengukuran, dan catat hasilnya untuk membantu evaluasi tenaga kesehatan.
6. Bagaimana Mengukur Tekanan Darah dengan Benar?
Untuk mendapatkan hasil yang lebih dapat diandalkan:
Hindari merokok, minuman berkafein, dan olahraga selama sekitar 30 menit sebelum pengukuran.
Duduk dan beristirahat dengan tenang selama sekitar lima menit.
Duduk dengan punggung tersangga, kedua kaki menapak lantai, dan kaki tidak disilangkan.
Letakkan lengan di atas meja dengan posisi manset setinggi jantung.
Gunakan manset dengan ukuran yang sesuai dan jangan berbicara selama pengukuran.
Lakukan pengukuran ulang sesuai petunjuk alat atau tenaga kesehatan, kemudian catat hasilnya.
Jika hasil pengukuran berulang kali tinggi, konsultasikan dengan dokter atau fasilitas kesehatan. Jangan menentukan diagnosis hanya berdasarkan satu hasil pengukuran di rumah.